menu melayang

Murah Pasti Laris? Ternyata Gak Sesederhana Itu

 Dulu aku pikir nentuin harga itu gampang. Tinggal lihat harga bahan, tambah sedikit, terus jual. Yang penting gak terlalu mahal biar orang mau beli. Logikanya sederhana, lebih murah berarti lebih laku. Dan memang di awal terasa masuk akal. Produk jalan, pembeli ada, usaha terlihat hidup. Tapi lama-lama mulai terasa ada yang aneh. Capek iya, rame juga iya, tapi hasilnya kok gak terlalu kerasa. Uang masuk ada, tapi kayak cepat habis lagi.

Ternyata masalahnya ada di cara aku nentuin harga. Waktu itu aku gak benar-benar menghitung HPP dengan lengkap. Yang aku hitung cuma bahan utama seperti ayam, beras, dan bumbu. Sementara biaya lain seperti minyak, gas, kemasan, sampai hal kecil seperti tisu dan sambal sering gak dimasukin ke hitungan. Padahal justru di situ letak “bocor halus” yang sebenarnya. Selain itu, aku juga sering ikut harga pasar. Lihat kompetitor jual segini, ya aku ikut segitu. Yang penting jangan sampai lebih mahal karena takut pembeli kabur. Padahal setiap usaha punya struktur biaya yang berbeda, dan ikut harga orang lain tanpa tahu hitungan sendiri itu sebenarnya berbahaya.

Kesalahan lain yang aku lakukan adalah terlalu fokus ke “biar laku dulu”. Margin tipis gak apa-apa, yang penting muter. Tapi ternyata kalau margin terlalu kecil, usaha jadi gak punya ruang napas. Sedikit saja ada kenaikan bahan, langsung terasa. Sedikit saja ada kesalahan, langsung rugi. Dari situ aku mulai belajar pelan-pelan. Mulai ngerti apa itu HPP sebenarnya, mulai coba hitung lebih detail, dan mulai berani menyesuaikan harga walaupun awalnya takut. Dan ternyata, yang aku takutkan gak sepenuhnya terjadi. Pembeli gak langsung hilang. Justru usaha jadi lebih sehat, lebih jelas ke mana uangnya, dan lebih bisa dikontrol.

Dari situ aku juga mulai sadar satu hal penting. Ternyata gak selamanya yang murah itu pasti laris. Dulu aku sempat mikir kalau harga lebih rendah dari yang lain pasti bakal lebih gampang jualan. Tapi kenyataannya, pembeli gak cuma lihat harga. Mereka lihat value dari produk yang kita jual. Mereka merasakan kualitas, dari rasa, porsi, sampai pengalaman waktu beli. Harga memang jadi pertimbangan, tapi bukan satu-satunya penentu. Setiap usaha punya target market sendiri. Ada yang memang cari murah walaupun kualitas biasa saja, tapi ada juga yang lebih mementingkan kualitas dan gak masalah bayar sedikit lebih mahal. Bahkan yang sering aku lihat, banyak pembeli justru lebih memilih produk yang kualitasnya bagus walaupun harganya sedikit lebih tinggi, karena terasa lebih worth it dibanding yang murah tapi zonk.

Dari situ aku mulai ngerti, gak perlu terlalu khawatir soal harga selama kita tahu value yang kita kasih. Karena pada akhirnya, setiap produk pasti punya pasarnya sendiri. Murah belum tentu aman, mahal belum tentu salah. Yang penting, kita ngerti hitungannya dan ngerti siapa yang kita tuju. Karena harga jual itu bukan sekadar angka, tapi keputusan penting yang menentukan usaha bisa bertahan atau enggak.

Pernah gak ngerasa jualan laku, tapi hasilnya gak kerasa?

Coba dipikir lagi…

jangan-jangan bukan kurang laku,

tapi ada yang salah di cara nentuin harga.

Blog Post

Related Post

Back to Top

CSS ON PGPOST

tentangaku-sidebar

Foto Adhit

Adhit

Bukan ahli, cuma pelaku.

Pelaku usaha kecil yang lagi belajar dari dapur, dari pelanggan, dan dari hidup.

Kenalan Dulu →

cari artikel

Cari Artikel

artbarusidebar

Artikel Terbaru

Kategori

quotes