Awalnya cuma Tora Soto. Sesederhana itu. Satu menu yaitu SOTO AYAM, satu harapan, dan satu keyakinan polos bahwa usaha ini bisa jalan kalau dijalani dengan niat. Waktu itu gue belum ngerti banyak hal. Bahkan bisa dibilang, gue masuk ke dunia usaha dengan bekal yang minim banget. Gak paham manajemen, gak punya koneksi, gak tahu cara ngembangin usaha, dan jujur aja, gue juga gak benar-benar ngerti arah yang sedang gue tuju. Yang gue tahu cuma satu: buka, jualan, jalani dulu. Sisanya, ya nebak sambil jalan.
Tapi usaha gak hidup dari semangat doang. Makin lama, makin kerasa kalau niat tanpa ilmu itu capek. Banyak hal yang waktu itu gue anggap sepele, ternyata justru jadi titik lemah. Gue gak tahu cara ngatur ritme usaha, gak tahu cara membaca keadaan, gak tahu kapan harus bertahan dan kapan harus berubah. Semuanya dijalani dalam mode bertahan hidup. Dan di fase itu, Tora Soto sempat ada di titik yang nyaris tumbang. Bukan cuma soal ramai atau sepi, tapi soal gue yang benar-benar kehilangan pegangan. Rasanya kayak jalan terus, tapi gak tahu ini sebenarnya lagi menuju ke mana.
Ada fase di mana gue capek, bingung, dan patah harapan di saat yang sama. Usaha masih ada, tapi rasanya seperti tinggal nama. Jalan sih jalan, tapi gak punya tenaga. Gue sempat ngerasa kecil banget. Ngerasa tertinggal. Ngerasa orang lain kok kelihatannya bisa lebih ngerti, lebih siap, lebih cepat berkembang, sementara gue masih sibuk berjuang dengan hal-hal dasar yang seharusnya dari awal sudah paham. Dan jujur, pernah ada momen di mana gue ngerasa mungkin memang gue gak cocok di dunia ini. Mungkin usaha ini bukan jalan gue. Mungkin gue cuma terlalu maksa bertahan di sesuatu yang sebenarnya gak gue kuasai.
Tapi justru dari titik itu, gue mulai sadar kalau terus jalan dengan cara yang sama cuma bakal bikin gue muter di lingkaran yang sama. Di situ gue mulai berhenti nyalahin keadaan, lalu pelan-pelan belajar jujur ke diri sendiri. Masalahnya bukan semata-mata pasar, bukan cuma modal, bukan juga sekadar nasib. Ada banyak hal yang memang belum gue ngerti. Dan kalau gue tetap keras kepala jalan tanpa belajar, ya hasilnya akan tetap begitu-begitu aja. Dari situ gue mulai cari arah. Mulai buka diri. Mulai kenal komunitas wirausaha. Mulai dengar orang lain yang lebih paham. Mulai sadar bahwa usaha itu bukan sekadar jualan, tapi ada ilmunya, ada ritmenya, ada cara berpikir yang harus dibangun.
Dari titik itu, lahirlah Kedai Tora. Bukan cuma ganti nama, tapi ganti cara pandang. Meski masih tertatih, setidaknya gue sudah gak sepenuhnya gelap. Gue mulai ngerti sedikit demi sedikit tentang manajemen, tentang pentingnya arah, tentang kenapa usaha gak bisa terus dijalani cuma pakai feeling. Masih banyak salah, masih sering bingung, masih jauh dari rapi, tapi ada satu hal yang berbeda: gue mulai belajar, dan gue tahu bahwa gue memang harus belajar.
Perjalanan itu terus jalan. Gue ikut bootcamp, ikut pelatihan, ikut program permodalan, ikut banyak hal yang dulu bahkan gak pernah terpikir bakal gue datangi. Sedikit demi sedikit wawasan kebuka. Gue mulai lihat bahwa usaha yang sehat itu bukan yang kelihatannya sibuk doang, tapi yang punya struktur, punya kontrol, dan punya kejelasan. Dari situ akhirnya usaha ini masuk ke fase berikutnya: Toranesia. Fase yang lebih tertata, lebih sadar arah, lebih serius dibangun. Bukan berarti semuanya langsung beres. Jauh banget dari sempurna. Masih banyak kurangnya. Masih banyak yang harus dibenahi. Tapi setidaknya sekarang gue gak lagi jalan dalam gelap seperti dulu.
Sampai hari ini pun gue masih belajar. Masih ikut pelatihan sana-sini. Masih cari ilmu soal perizinan, pengelolaan makanan, penjamah makanan, dan banyak hal lain yang dulu gue anggap gak penting karena belum paham dampaknya. Sekarang gue justru sadar, usaha kecil gak bisa tumbuh kalau pemiliknya berhenti belajar. Dan mungkin itu pelajaran paling besar dari semua perjalanan ini. Bukan soal siapa yang paling cepat, paling besar, atau paling terlihat berhasil. Tapi soal siapa yang tetap mau belajar, bahkan setelah jatuh, bingung, dan hampir menyerah.
Kalau sekarang gue lihat ke belakang, gue gak lagi cuma lihat Tora Soto sebagai fase yang gagal atau menyakitkan. Gue lihat itu sebagai titik di mana semuanya mulai dibentuk. Titik di mana gue dipaksa sadar bahwa usaha bukan cuma soal jualan, tapi soal bertumbuh. Soal berani mengakui kalau diri sendiri belum tahu, lalu tetap mau melangkah. Dari hampir tumbang, sampai mulai menemukan arah. Dan mungkin, perjalanan ini masih panjang. Tapi setidaknya sekarang gue gak lagi sekadar bertahan. Gue mulai benar-benar membangun
Pernah gak ada di fase ngerasa jalan terus, tapi gak tahu arah?
Kalau kamu di posisi itu sekarang… kamu bakal bertahan, atau mulai berubah?


0 Comments